Suatu sore yang cerah, Alya dan Ray sedang duduk di bangku taman kampus, menikmati suasana yang tenang setelah seminggu yang melelahkan. Mereka saling berbagi cerita tentang impian dan harapan, menjalin hubungan yang semakin erat. Namun, saat mereka tertawa dan bercanda, sebuah mobil berhenti di dekat mereka, dan seorang wanita turun dari dalamnya.
Alya melihat wanita itu dan merasakan jantungnya berdegup kencang. Wanita itu adalah Mia, mantan pacar Ray, yang selama ini hanya pernah Alya dengar dalam cerita Ray. Mia berjalan ke arah mereka dengan senyum yang percaya diri, seolah tidak ada yang lebih menyenangkan baginya selain bertemu dengan Ray kembali.
“Ray! Lama tidak bertemu!” serunya, melambai dengan antusias. “Kamu terlihat baik-baik saja.”
Ray tertegun, seolah terjebak dalam kenangan yang tidak ingin ia hadapi. “Mia…,” ucapnya pelan, berusaha menunjukkan sikap santai meski hatinya bergetar.
“Dan kamu pasti Alya, kan? Senang bertemu denganmu!” Mia berkata, matanya bersinar dengan nada mencemooh. “Ray sering bercerita tentangmu. Sepertinya dia sangat beruntung memiliki kamu.”
Alya tersenyum, tetapi hatinya bergetar mendengar nama Mia. Semua cerita tentang masa lalu Ray yang ia dengar kini terasa lebih nyata, dan keraguan mulai menyusup ke dalam pikirannya. Dia berusaha menjaga sikap tenang, tetapi rasa cemburu mulai menghangat di dadanya.
“Mia, ini sudah lama sekali. Apa kabar?” Ray berusaha terdengar santai, meski tidak bisa menyembunyikan ketidaknyamanan di wajahnya.
“Aku baik-baik saja. Kembali ke kota ini dan melihat wajah-wajah lama membuatku nostalgia,” jawab Mia, mengedipkan matanya ke arah Ray. “Dan sepertinya kamu sudah menemukan kebahagiaan baru.”
Alya merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya. “Kami sedang berusaha untuk tetap positif,” ucapnya, berusaha tersenyum meski hatinya berdebar. “Kita semua berhak untuk bahagia, bukan?”
“Oh, tentu saja! Tapi jangan khawatir, Ray. Aku di sini hanya untuk menjenguk teman-teman lama, bukan untuk mengganggu,” kata Mia, melemparkan senyum manis yang bisa membuat siapa pun terpesona. “Jadi, apa rencanamu ke depan, Ray?”
Ray terlihat terjebak dalam pertanyaan itu. Ia merasakan tekanan di dadanya. “Aku sedang fokus pada kuliah dan… hubungan ini,” jawabnya, sedikit terputus-putus. Ia berharap Alya tidak melihat kekhawatiran di wajahnya.
“Hubungan?” Mia mengejek, seolah menyakiti perasaan Alya. “Kamu tahu, aku tidak bisa tidak ingat betapa banyak kenangan indah yang kita bagi. Aku hanya ingin memastikan kamu benar-benar bahagia di sini.”
Alya bisa merasakan ketidaknyamanan yang tumbuh di antara mereka. “Kami bahagia,” jawabnya tegas, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak terpengaruh oleh kehadiran Mia.
Mia menatap Alya sejenak, seolah mencari celah. “Ray, ingat saat kita berlibur ke pantai? Semua yang kita lalui bersama? Rasanya tidak ada yang bisa menggantikan itu,” ucapnya, menggoda dengan nada nostalgia yang sengaja dibuat-buat.
Ray menundukkan kepala, merasa tertekan. “Itu masa lalu, Mia. Sekarang aku memiliki Alya,” katanya, berusaha keras untuk menjaga komitmennya.
Mia tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar sinis. “Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, Ray. Kadang-kadang, itu bisa kembali dan menggoyahkan segalanya. Aku harap kamu tidak melupakan semua yang pernah kita alami,” ucapnya, lalu berpaling ke Alya. “Semoga kamu benar-benar bisa memahami dia.”
Alya merasa terjebak dalam permainan kata-kata, dan rasa cemburu mulai mengganggu pikirannya. “Terima kasih, Mia. Tapi aku percaya pada Ray dan masa depan kami,” jawabnya, berusaha menunjukkan keberanian meski hati kecilnya bergetar.
Mia hanya tersenyum, tidak peduli pada tanggapan Alya. “Baiklah, jika kamu merasa begitu. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Sampai jumpa, Ray. Kita harus berbicara lebih banyak lain kali.” Dengan itu, Mia melambaikan tangan dan pergi, meninggalkan Ray dan Alya dalam keheningan yang tegang.
Setelah Mia pergi, suasana di antara mereka terasa canggung. Ray merasakan tekanan di dalam dirinya dan menatap Alya. “Aku minta maaf. Mia tidak seharusnya muncul seperti itu,” katanya dengan nada menyesal.
“Aku baik-baik saja,” Alya menjawab, tetapi dalam hatinya, keraguan mulai merayap. “Tapi… apa kamu baik-baik saja? Apa dia mengganggu perasaanmu?”
Ray menghela napas, merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu. “Dia hanya… masa lalu. Dia tidak seharusnya mempengaruhi kita.”
“Tapi dia tampak begitu dekat denganmu, Ray. Aku tidak bisa menahan perasaan ini,” ungkap Alya, suaranya hampir bergetar. “Apakah kamu masih memiliki perasaan untuknya?”
“Tidak! Aku sudah melupakan masa lalu itu. Alya, kamu adalah segalanya bagiku sekarang. Dia hanya membuatku merasa tidak nyaman,” Ray menjelaskan, matanya penuh ketulusan.
“Ray, jika kamu sudah melupakan masa lalu, buktikanlah. Jangan biarkan Mia menggoyahkan kita. Aku ingin kamu jujur,” Alya berkata, merasakan ketegangan di dadanya.
Ray menatap Alya dalam-dalam, berusaha meyakinkannya. “Aku bersumpah, tidak ada yang lebih penting bagiku daripada kamu. Kita harus fokus pada kita, bukan pada masa lalu.”
Alya mengangguk, tetapi keraguannya tidak sepenuhnya sirna. “Aku percaya padamu, tetapi… tolong jangan biarkan masa lalu kembali menghantui kita. Kita harus kuat bersama.”
Ray meraih tangan Alya, menggenggamnya dengan lembut. “Aku berjanji. Aku tidak akan membiarkan masa lalu mengganggu hubungan kita. Cinta kita adalah yang utama,” katanya, berusaha memberikan kepercayaan diri.
Mereka berdua duduk dalam keheningan, merenungkan masa lalu dan masa depan. Meskipun ada bayang-bayang yang mengintai, Alya tahu bahwa mereka harus menghadapi rintangan bersama. Dengan keteguhan hati, mereka berjanji untuk terus melangkah maju, menatap masa depan yang lebih cerah—walau kadang masa lalu mungkin kembali mengusik, cinta mereka akan menjadi penuntun di setiap langkah yang mereka ambil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar