Sabtu, 02 November 2024

bab14

Bab 14: Cemburu yang Membara

Minggu-minggu berlalu, dan meskipun Ray dan Alya berhasil mengatasi rumor yang beredar di kampus, satu hal yang tidak bisa mereka hindari adalah perasaan cemburu yang muncul di antara mereka. Ray merasa terjebak antara keinginan untuk mempercayai Alya dan ketakutannya yang mengakar, dan perasaannya semakin rumit ketika ia melihat Alya bersama teman-teman pria lain.

Suatu sore, saat Ray berada di kantin, ia melihat Alya tertawa lepas bersama Dimas, teman sekelas yang cukup akrab dengannya. Mereka berbincang-bincang dengan akrab, dan senyuman Alya tampak cerah di bawah sinar matahari. Ray merasakan detak jantungnya meningkat, dan perasaan aneh menggelayuti hatinya.

“Aku tahu dia sahabatmu, tapi… kenapa dia selalu berusaha mendekat?” ucap Ray pada diri sendiri, meskipun ia tahu bahwa Dimas hanyalah teman biasa bagi Alya. Namun, melihat mereka bersama membuat hati Ray mendidih, menciptakan gelombang cemburu yang membara.

Ketika Alya melihat Ray, dia melambai dan berjalan menghampirinya. “Ray! Aku baru saja berbincang dengan Dimas tentang tugas kuliah. Dia sangat membantu!” serunya ceria, seolah tidak ada yang aneh.

Ray mencoba tersenyum, tetapi di dalam hatinya, rasa cemburu dan ketidakamanan bergejolak. “Oh, ya? Itu bagus,” jawabnya dengan nada datar, berusaha menahan emosi yang mulai memuncak.

Alya memperhatikan perubahan sikap Ray. “Kamu tampak aneh. Apakah ada yang salah?” tanyanya, khawatir.

“Aku baik-baik saja,” Ray menjawab singkat, menghindari tatapan Alya. Ia merasa marah pada dirinya sendiri karena cemburu, tetapi tidak bisa mengendalikannya. “Hanya saja… kamu tampak dekat sekali dengan Dimas. Itu terlihat cukup akrab,” lanjutnya, suaranya semakin tegang.

Alya terkejut mendengar itu. “Ray, kamu tahu Dimas adalah teman sekelasku. Kami hanya membahas tugas, tidak lebih dari itu,” jelasnya dengan nada defensif.

“Tapi kamu sepertinya sangat menikmati kebersamaan itu,” Ray menjawab, tidak bisa menyembunyikan nada cemburunya. “Apa kamu tahu bagaimana rasanya melihatmu bersama pria lain?”

“Ray, jangan seperti ini. Aku bukan milikmu. Aku berhak berteman dengan siapapun yang aku mau,” ucap Alya, merasa sakit hati dengan reaksi Ray.

Ray merasakan kemarahan dan rasa tidak berdaya. “Tapi aku peduli padamu! Kenapa kamu tidak bisa mengerti bahwa aku merasa cemas melihatmu dekat dengan orang lain? Ini bukan tentang siapa yang berhak. Ini tentang bagaimana perasaanku!” teriaknya, suaranya menggetarkan suasana kantin.

Alya terdiam, terkejut dengan kemarahan Ray. Dia tidak pernah melihat sisi itu dari Ray sebelumnya. “Ray…,” Alya mulai berkata, tetapi Ray sudah melanjutkan.

“Lihat, aku tahu aku seharusnya tidak merasa seperti ini, tetapi kamu tidak bisa berharap aku tidak merasakan sesuatu ketika melihatmu tertawa dan berbincang dengan orang lain. Itu menyakitkan!” Ray menambahkan, merasa frustrasi dengan dirinya sendiri.

Alya merasa campur aduk. Di satu sisi, dia mengerti mengapa Ray merasa cemburu, tetapi di sisi lain, dia tidak bisa menerima bahwa Ray menganggapnya tidak setia. “Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu. Aku hanya ingin bersenang-senang dan menjalin persahabatan. Apakah itu salah?” tanyanya, suara hampir bergetar.

Ray menatap Alya, menyadari bahwa ia telah melampaui batas. “Tidak, itu tidak salah. Tapi aku khawatir. Aku takut kehilanganmu,” ungkapnya, suara Ray mulai melembut.

Alya merasakan kehangatan di hatinya. “Ray, kamu tidak akan kehilangan aku. Kita telah berjuang bersama untuk hubungan ini. Mengapa kita harus membiarkannya hancur hanya karena perasaan cemburu?” tanyanya lembut.

“Aku tidak ingin merasa cemburu. Aku ingin percaya padamu, tetapi kadang-kadang, perasaanku mengacaukan semuanya,” Ray mengakui, menyesali cara ia mengungkapkan emosi sebelumnya.

“Jika kamu merasa cemburu, bicaralah padaku. Jangan biarkan rasa cemburu itu mengubah siapa dirimu. Kita harus bisa saling terbuka tentang perasaan kita,” Alya menjelaskan, berusaha mendekatkan diri.

Ray mengangguk, merasa bersalah. “Maafkan aku. Aku seharusnya tidak marah tanpa alasan. Aku akan berusaha untuk lebih percaya padamu.”

“Dan aku berjanji untuk selalu berbagi denganmu, supaya kita bisa mengatasi perasaan ini bersama,” ucap Alya, tersenyum lembut.

Mereka berdua duduk dalam keheningan sejenak, merenungkan momen yang baru saja terjadi. Meskipun ketegangan masih terasa, ada pengertian baru di antara mereka. Ray merasakan hatinya tenang ketika ia memegang tangan Alya, seolah mengukuhkan janji untuk saling mendukung.

“Terima kasih karena mengerti. Aku tahu kita akan melalui ini bersama,” Ray berkata, mengusap punggung tangan Alya dengan lembut.

Alya tersenyum, merasakan kembali kedekatan yang sempat goyah. “Kita hanya perlu berusaha, Ray. Cinta adalah tentang kepercayaan, dan kita akan belajar untuk mempercayai satu sama lain.”

Dengan semangat baru, mereka berdua beranjak dari kantin, siap untuk menghadapi dunia luar bersama. Ray menyadari bahwa cemburu mungkin adalah bagian dari cinta, tetapi dengan komunikasi dan saling pengertian, mereka bisa mengatasi setiap rintangan yang menghadang. Cinta mereka menjadi semakin kuat, dan mereka bertekad untuk tidak membiarkan perasaan negatif menguasai hubungan yang telah mereka bangun dengan penuh perjuangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

11

Jalan Menuju Kebangkitan Dalam bayangan pagi yang cerah, Kita melangkah di jalan yang sunyi, Setiap jejak adalah ungkapan harapan, Menuju ke...