leluhur orang yang meninggal saat jenazah tersebut dibawa dari rumah, melalui jalan-jalan, sampai ke tempat pemakaman.
[2/10 19.38] Suhandono: Penghormatan leluhur merupakan hal yang lazim di seluruh Afrika dan berperan sebagai dasar dari banyak agama. Hal ini sering ditambah dengan keyakinan akan adanya wujud tertinggi, tetapi doa dan/atau korban biasanya dipersembahkan kepada para leluhur yang mungkin menjadi semacam dewa kecil. Penghormatan leluhur tetap ada pada banyak masyarakat Afrika, terkadang dipraktikkan bersama dengan agama-agama yang dianut kemudian seperti Kekristenan (misalnya di Nigeria di kalangan suku Igbo) dan Islam (di kalangan berbeda dari orang Mandé dan Bamum) di sebagian besar benua tersebut.
[2/10 19.40] Suhandono: Di Korea, penghormatan leluhur disebut dengan istilah umum jerye (hangul: 제례; hanja: 祭禮) atau jesa (hangul: 제사; hanja: 祭祀). Contoh-contoh penting jerye misalnya Munmyo jerye dan Jongmyo jerye, yang dilakukan secara periodik setiap tahun untuk menghormati para cendekiawan Konfusian dan raja zaman kuno. Perayaan yang diadakan saat peringatan kematian seorang anggota keluarga itu disebut charye (차례), dan masih dipraktikkan sampai saat ini.
Sebagian besar umat Katolik, Buddhis, dan yang tak beragama mempraktikkan upacara leluhur, namun umat Protestan tidak. Larangan dari Gereja Katolik atas ritual leluhur dicabut pada tahun 1939, di mana Gereja Katolik secara resmi mengakui upacara leluhur sebagai suatu praktik sipil.
Upacara leluhur biasanya dibagi ke dalam tiga kategori:
Charye (차례, 茶禮) – upacara minum teh yang diadakan empat kali setahun pada hari-hari besar (Tahun Baru Korea, Chuseok)
Kije (기제, 忌祭) – upacara rumah tangga yang diadakan pada malam sebelum peringatan kematian seorang leluhur (기일, 忌日)
Sije (시제, 時祭; disebut juga 사시제 or 四時祭) – upacara musiman yang diadakan untuk para leluhur dari lima generasi di atasnya atau lebih (biasanya dilakukan setiap tahun pada bulan lunar kesepuluh)
[2/10 19.40] Suhandono: Penghomatan leluhur adalah salah satu aspek yang paling mempersatukan dalam budaya Vietnam, sebagai praktik dari semua orang Vietnam, terlepas dari afiliasi keagamaannya (Buddhis atau Katolik) mereka memiliki sebuah altar leluhur di rumah atau tempat usaha mereka.
Di Vietnam, orang-orang secara tradisi tidak memperingati kematian (sebelum pengaruh Barat), tetapi peringatan kematian orang yang dicintai selalu merupakan suatu acara penting. Selain pertemuan penting dari para anggota keluarga untuk suatu perjamuan dalam mengenang yang meninggal, batang dupa dibakar bersama dengan uang neraka, dan piring-piring besar berisi makanan sebagai persembahan di atas altar leluhur, yang mana biasanya terdapat foto atau plakat yang bertuliskan nama-nama almarhum.
Praktik dan persembahan ini sering dilakukan selama perayaan religius atau tradisi yang penting, memulai usaha baru, atau bahkan ketika seorang anggota keluarga membutuhkan bimbingan atau nasihat, dan merupakan suatu ciri penekanan budaya Vietnam sebagai wujud bakti.
Suatu ciri pembeda yang cukup signifkan dalam penghormatan leluhur Vietnam yakni perempuan secara tradisi diperbolehkan untuk berpartisipasi dan mendampingi pemimpin upacara leluhur, tidak seperti doktrin Konfusian Tionghoa yang hanya memperbolehkan keturunan laki-laki untuk melakukan ritual semacam itu.
[2/10 19.42] Suhandono: Penyembahan atau pemujaan leluhur tidak lagi dilakukan dalam Birma (Myanmar) zaman modern (kecuali dalam beberapa komunitas minoritas etnis) namun masih berbekas, seperti penyembahan Bo Bo Gyi (secara harfiah “buyut”), serta roh-roh penjaga lainnya seperti nat, yang mana semuanya mungkin merupakan sisa-sisa upacara bersejarah pemujaan leluhur.
Pemujaan leluhur dilakukan dalam istana kerajaan Birma pra-kolonial. Pada masa Wangsa Konbaung, gambar para raja yang telah meninggal (terbuat dari emas batangan) dan selir mereka disembah tiga kali setahun oleh keluarga kerajaan, selama Tahun Baru Burma (Thingyan), di awal dan akhir prapaskah Buddhis (Vassa). Gambar-gambar tersebut disimpan dalam perbendaharaannya dan disembah di Zetawunzaung (ဇေတဝန်ဆောင်, “Galeri Para Leluhur”) bersama dengan sebuah kitab syair pujian.
Beberapa akademisi menghubungkan hilangnya pemujaan leluhur dengan pengaruh doktrin-doktrin agama Buddha tentang ketidakkekalan (anicca) dan penolakan atas ‘diri’ (anatta)
[2/10 19.43] Suhandono: Di negara-negara Katolik di Eropa (kemudian dilanjutkan dengan Gereja Anglikan di Inggris), 1 November (Hari Raya Semua Orang Kudus) hingga saat ini masih dikenal sebagai hari untuk menghormati mereka yang telah meninggal dan mereka yang telah dinyatakan sebagai santo/santa secara resmi oleh Gereja tersebut. 2 November (Hari Arwah), atau “Hari Orang Mati”, adalah hari untuk mengenang semua umat beriman yang telah meninggal dunia. Pada hari tersebut, para keluarga pergi ke pemakaman untuk menyalakan lilin bagi kerabat mereka yang telah meninggal, menaruh bunga di atas makamnya, dan lain-lain, serta sering kali sebagai kesempatan berpiknik.
Malam sebelum Hari Raya Semua Orang Kudus —“All Hallows Eve” atau “Hallowe’en”— merupakan hari Katolik yang tidak resmi untuk mengenang kenyataan adanya neraka, berkabung bagi para jiwa yang jatuh ke tangan iblis, mengingat kembali cara-cara untuk menghindari neraka, dan sebagainya. Perayaan ini umumnya dirayakan di Amerika Serikat dan sebagian Britania Raya dalam suatu nuansa ketakutan dan kengerian sambil bersuka ria, serta ditandai dengan mengisahkan cerita hantu, api ungun, mengenakan kostum, dan membuat Jack-o’-lantern; di kalangan anak-anak melakukan “trick-or-treating”, yakni berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga untuk meminta permen.
[2/10 19.43] Suhandono: Di Cornwall dan Wales, festival leluhur pada musim gugur berlangsung sekitar tanggal 1 November. Festival tersebut di Cornwal dikenal dengan nama Kalan Gwav, dan di Wales namanya Calan Gaeaf. Festival-festival tersebut memiliki beberapa kemiripan dengan Samhain, suatu festival Gaelik yang lebih terkenal, yang mana merupakan asal mula perayaan Halloween modern.
[2/10 19.44] Suhandono: Selama festival Samhain, tanggal 1 November di Irlandia dan Skotlandia, orang yang telah meninggal diduga kembali ke dunia orang hidup; persembahan makanan dan penerangan diberikan kepada mereka.Pada hari festival tersebut, orang-orang zaman dahulu memadamkan api pada perapian di rumah mereka, berpartisipasi dalam suatu festival api unggun masyarakat, kemudian membawa pulang suatu nyala api dari api komunal tersebut dan menggunakannya untuk menyalakan kembali perapian di rumah mereka. Kebiasaan ini terus dilanjutkan dalam zaman modern hingga batas tertentu, baik di bangsa-bangsa Keltik maupun diasporanya. Penerangan di jendela, yang digunakan untuk memandu pulang orang yang telah meninggal, dibiarkan menyala sepanjang malam. Di Pulau Man festival tersebut dikenal sebagai “Sauin lama” atau Hop-tu-Naa
[2/10 19.45] Suhandono: Penghormatan Leluhur pada budaya Tionghoa (Hanzi =敬祖;hanyu pinyin =jìngzǔ) adalah kebiasaan yang dilakukan anggota keluarga yang masih hidup untuk berusaha mencukupi kebutuhan anggota keluarga yang sudah meninggal dan membuat mereka berbahagia di akhirat. Praktik tersebut merupakan upaya untuk tetap menunjukkan bakti kepada mereka yang telah meninggal, dan juga memperkokoh persatuan dalam keluarga dan yang segaris keturunan. Menunjukkan rasa bakti kepada leluhur merupakan sebuah ideologi yang berakar mendalam pada masyarakat Tionghoa. Dasar pemikirannya adalah kesalehan anak (孝, xiào) yang ditekankan oleh Kong Hu Cu. Kesalehan anak adalah sebuah konsep untuk selalu mengasihi orang tua sebagai seorang anak. Dipercaya bahwa meskipun orang yang terkasih telah meninggal, hubungan yang terjadi selama ini masih tetap berlangsung, serta orang yang telah meninggal memiliki kekuatan spiritual yang lebih besar dibandingkan pada saat masih hidup. Pengertiannya adalah para leluhur dianggap menjadi dewa yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan mempengaruhi kehidupan anggota keluarga yang masih hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar