Sabtu, 02 November 2024

bab 2

Bab 2: Pertemuan Tak Terduga

Suatu sore yang tenang, Alya memutuskan pergi ke perpustakaan kampus untuk mencari buku referensi yang ia butuhkan untuk tugas kuliahnya. Ia masih terbiasa dengan suasana perpustakaan di kampus kecilnya dulu, sehingga suasana perpustakaan besar dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi membuatnya sedikit kagum sekaligus bingung. Meskipun merasa asing, Alya menenangkan diri dan mulai mencari buku yang dibutuhkannya.

Ia menelusuri rak demi rak hingga tiba di bagian yang tepat. Di rak paling atas, Alya menemukan buku yang ia cari, namun sebelum sempat ia meraihnya, sebuah tangan lain muncul dari arah berlawanan dan mencoba mengambil buku yang sama. Alya terkejut, dan saat menoleh, ia bertemu dengan sepasang mata tajam yang menatapnya.

Seorang pemuda dengan wajah serius dan sedikit dingin berdiri di sana, sama-sama terkejut melihat Alya. Matanya yang gelap berkilau di bawah pencahayaan perpustakaan, memberikan kesan misterius yang sulit dijelaskan. Alya merasa canggung dan segera menarik tangannya, tetapi pemuda itu tampaknya tak berniat mengalah.

“Maaf, aku butuh buku ini untuk tugas,” kata Alya dengan suara pelan, mencoba menghindari tatapannya yang intens.

Pemuda itu hanya mengangkat satu alis, menunjukkan ekspresi yang entah mengejek atau menguji kesabaran Alya. “Aku juga butuh buku ini. Kalau kamu mau, aku bisa menyelesaikannya lebih cepat dan kamu bisa meminjamnya setelah aku selesai,” jawabnya dingin.

Alya merasa tersinggung oleh sikapnya yang arogan. Ia mengeratkan genggaman pada buku itu, memandang pemuda itu dengan tekad yang sama. “Aku tidak keberatan menunggu, tapi mungkin ada cara lain yang lebih... adil?”

Pemuda itu terdiam sejenak, tampaknya terkejut dengan respon Alya. Biasanya, orang-orang tidak banyak berdebat dengannya. Setelah beberapa detik, ia mengangguk singkat dan melepaskan genggamannya. “Baiklah, kamu duluan. Aku akan menunggu giliran.”

Alya tersenyum tipis, merasa puas dengan hasilnya. “Terima kasih,” katanya sopan sambil mengambil buku tersebut dan membawanya ke meja terdekat.

Ia mencoba fokus pada tugasnya, namun sesekali ia melirik pemuda itu yang kini duduk tak jauh darinya, tampak sibuk dengan laptopnya. Ada sesuatu yang menarik perhatian Alya pada pemuda tersebut—sesuatu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak. Ia penasaran, namun juga sedikit gugup setiap kali pemuda itu tanpa sengaja menangkap tatapannya.

Setelah beberapa saat, Alya akhirnya memberanikan diri untuk menyelesaikan bacaannya lebih cepat. Ia bangkit dan menghampiri pemuda itu, menyerahkan buku yang tadi mereka perebutkan.

“Nih, aku sudah selesai,” katanya, mencoba tersenyum. Pemuda itu mengangkat wajah dan untuk pertama kalinya, ia terlihat tersenyum tipis—senyum yang hampir sulit dilihat, namun cukup untuk membuat Alya merasa ada sisi lembut di balik sikap dinginnya.

“Terima kasih. Namaku Ray,” katanya sambil menerima buku tersebut. Tatapannya berubah lebih lembut, meski tetap menjaga jarak.

“Alya,” balas Alya singkat. Suasana menjadi hening sejenak, seolah keduanya saling membaca satu sama lain. Meski tidak banyak yang dikatakan, ada ketertarikan yang muncul di antara mereka, sesuatu yang tak terduga namun terasa kuat.

Saat Alya melangkah keluar dari perpustakaan, ia merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa, pertemuannya dengan Ray meninggalkan kesan mendalam dalam benaknya. Di tengah kesibukan kota besar ini, Alya merasa seperti baru saja menemukan sesuatu yang berbeda—atau mungkin, seseorang yang akan mengubah hidupnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

11

Jalan Menuju Kebangkitan Dalam bayangan pagi yang cerah, Kita melangkah di jalan yang sunyi, Setiap jejak adalah ungkapan harapan, Menuju ke...