Sejak pertemuan mereka di perpustakaan, sosok Ray tak pernah lepas dari pikiran Alya. Setiap kali ia berada di kampus, matanya tanpa sadar mencari-cari pemuda itu, meskipun ia tak yakin apa yang membuatnya begitu tertarik. Sikap dingin dan jarak yang selalu dipertahankan Ray justru menimbulkan rasa penasaran di hati Alya. Ia merasa seperti ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan Ray yang kerap kali tampak muram dan penuh misteri.
Di hari-hari berikutnya, Alya mulai mendengar lebih banyak cerita tentang Ray dari teman-temannya. Maya, yang cukup populer di kalangan mahasiswa, tampaknya tahu banyak tentang siapa Ray dan bagaimana reputasinya di kampus.
“Kamu perlu hati-hati kalau berurusan sama Ray, Alya,” ujar Maya pada suatu siang ketika mereka sedang makan siang bersama. “Dia terkenal dingin, suka menyendiri, dan nggak pernah mau dekat sama siapa pun. Banyak yang mencoba, tapi akhirnya mereka sendiri yang terluka.”
Alya mendengarkan dengan penuh perhatian, tetapi kata-kata Maya malah membuatnya semakin penasaran. “Kenapa, sih? Apa ada alasan di balik sikapnya?”
Maya mengangkat bahu. “Nggak ada yang tahu pasti. Mungkin dia punya masa lalu yang kelam atau trauma. Ada yang bilang dia pernah dikhianati atau kehilangan seseorang yang dia cintai. Tapi itu cuma rumor. Pokoknya, kalau kamu dekat-dekat, dia nggak akan segan menyingkirkanmu.”
Dika yang duduk di seberang mereka mengangguk setuju. “Iya, Ray memang susah didekati. Aku sendiri pernah berusaha ngajak ngobrol, tapi dia cuma balas dengan tatapan kosong. Menyeramkan.”
Meskipun teman-temannya memperingatkan untuk menjauh, Alya tidak bisa menghilangkan rasa ingin tahunya. Ia merasa bahwa ada sisi lain dari Ray yang mungkin tidak diketahui orang lain. Alya juga mengingat kembali senyuman kecil yang ditunjukkan Ray di perpustakaan saat ia mengembalikan buku. Meskipun hanya sekejap, senyum itu meninggalkan kesan hangat di hatinya, seolah-olah ia telah melihat sisi yang berbeda dari pemuda misterius itu.
Beberapa hari kemudian, Alya kembali melihat Ray di kampus, kali ini di taman kecil di belakang gedung fakultas. Ray duduk di bangku sendirian, asyik membaca buku dengan ekspresi yang serius. Alya hampir melangkah mendekatinya, tetapi ia terhenti, ragu apakah Ray akan menyambutnya atau justru mengabaikannya.
Namun, sebelum Alya sempat memutuskan, Ray menoleh ke arahnya, seolah menyadari keberadaannya sejak awal. Mereka bertatapan sejenak, dan Alya merasa jantungnya berdegup kencang. Tatapan Ray yang tajam seakan menembus pikirannya, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda—tatapan itu tak lagi dingin, melainkan penuh ketenangan, seolah mempersilakan Alya untuk mendekat.
Dengan hati-hati, Alya memberanikan diri berjalan ke arah bangku Ray dan berdiri di sampingnya. “Sedang baca apa?” tanyanya sambil mencoba tersenyum ramah.
Ray mengangkat bukunya sedikit, menunjukkan sampulnya yang tampak seperti buku sastra klasik. “Hanya sekadar buku lama,” jawabnya singkat, tetapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda keberatan dengan kehadiran Alya.
Percakapan mereka tidak berlangsung lama, namun setiap kata yang keluar dari mulut Ray membuat Alya semakin penasaran. Ray berbicara dengan nada tenang dan singkat, seolah-olah ia hanya mengatakan apa yang perlu. Meski sedikit canggung, Alya mencoba menikmati momen itu, mengamati cara Ray berpikir dan merespon, seakan sedang mencoba menguraikan teka-teki rumit yang ada di depannya.
Setelah pertemuan singkat tersebut, Alya merasa semakin terikat dengan perasaan yang tak ia mengerti. Meski Ray terlihat dingin dan tak banyak bicara, Alya yakin bahwa di balik sikapnya yang tertutup, ada luka yang mungkin menyimpan cerita yang belum pernah dibagikan pada siapa pun. Perasaan itu terus mengusik pikirannya, membuatnya tak bisa berhenti memikirkan Ray dan semakin ingin mengenalnya lebih jauh.
Meskipun tahu risikonya, Alya tak bisa menahan diri untuk mendekati Ray. Ia tahu, perjalanannya mendekati pemuda misterius itu mungkin tidak akan mudah. Namun, Alya juga tahu bahwa ia siap mengambil risiko, demi menemukan kebenaran di balik tatapan kelam Ray yang seakan menyembunyikan sesuatu yang lebih dari sekadar keheningan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar