Setelah pertemuan tak terduga di taman, hubungan Alya dan Ray mulai berubah, meskipun langkah-langkah mereka masih terasa canggung. Ray, yang biasanya tampak dingin dan sulit didekati, perlahan-lahan mulai menunjukkan perhatian yang kecil namun berarti. Hal ini membuat Alya merasa istimewa, seolah-olah ada yang berusaha untuk menjangkau hatinya, meskipun dengan cara yang mungkin tidak terlalu jelas.
Di kampus, Ray sering kali muncul di sekitar Alya dan teman-temannya. Terkadang, ia duduk di meja yang sama saat mereka berkumpul untuk belajar atau mengerjakan tugas. Meski tidak banyak bicara, Alya dapat merasakan ketegangan yang aneh dan nyaman di antara mereka. Ray sesekali meliriknya dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah menyimpan banyak hal dalam pikirannya.
Suatu hari, saat Alya sedang duduk di bangku taman menunggu teman-temannya, Ray tiba-tiba mendekatinya. “Kamu suka membaca, kan?” tanyanya, suaranya terdengar lebih hangat dari biasanya.
Alya mengangguk, sedikit terkejut dengan pertanyaannya. “Iya, aku suka. Kenapa?”
Ray mengeluarkan sebuah buku dari tasnya dan menyerahkannya kepada Alya. “Aku pikir kamu mungkin suka ini. Cerita yang bagus dan penuh makna,” katanya sambil tersenyum tipis.
Alya menatap buku yang diberikan Ray, merasa senang sekaligus bingung. “Terima kasih, Ray. Aku akan membacanya,” jawabnya, berusaha menjaga nada suara tetap tenang meskipun hatinya berdebar-debar. Dalam hati, ia merasa terharu, menyadari bahwa perhatian sekecil ini bisa membuatnya merasa lebih dekat dengan Ray.
Namun, setiap kali Alya berusaha untuk mengajak Ray berbicara lebih banyak, Ray kembali bersikap dingin dan menarik diri, seolah mengingatkan Alya untuk tidak terlalu berharap. Itu membuat Alya merasa campur aduk. Ada saat-saat ketika ia melihat sinar lembut di mata Ray, dan di lain waktu, ia merasakan dinding yang tinggi menjulang di antara mereka.
Di tengah kebingungan tersebut, Alya mulai menceritakan hal-hal kecil tentang dirinya kepada Ray saat mereka berjumpa. Ia menjelaskan tentang cita-citanya, harapannya untuk menjadi seniman, dan bagaimana ia menyukai lukisan dan teater. Ray mendengarkan dengan penuh perhatian, meskipun ia jarang mengungkapkan banyak hal tentang dirinya.
“Apakah kamu pernah melukis?” tanya Alya suatu hari, berharap untuk mendalami ketertarikan Ray pada seni.
“Dulu. Tapi aku sudah lama tidak melakukannya,” jawab Ray, suara yang terdengar penuh kenangan. Alya ingin tahu lebih banyak, tetapi Ray tidak melanjutkan pembicaraan, membuatnya merasa terjebak di balik tirai misteri yang belum terungkap.
Semakin hari, Alya menyadari bahwa meski Ray terkadang bersikap dingin, ia juga menunjukkan perhatian kecil yang membuatnya merasa diingat dan istimewa. Misalnya, ketika Alya terlambat datang ke kelas, Ray selalu menyisakan tempat untuknya di bangku dekatnya. Atau saat Alya tampak lelah, Ray akan membawakan secangkir kopi dari kafe kampus—meskipun ia tidak mengucapkan banyak kata, tetapi tindakan-tindakan kecil tersebut membuat Alya semakin jatuh hati.
Malam hari, saat Alya duduk di tempat tidurnya dengan buku yang diberikan Ray, ia merasa bersemangat dan penuh harapan. Ia tahu, meskipun pendekatan mereka berliku dan tidak selalu mudah, ada sesuatu yang indah yang sedang berkembang di antara mereka. Rasa ingin tahunya semakin kuat, dan Alya bertekad untuk lebih mengenal Ray, bahkan jika itu berarti menghadapi ketidakpastian dan tantangan.
Namun, ia juga menyadari bahwa untuk memahami Ray, ia harus bersabar. Ray bukanlah seseorang yang terbuka dengan mudah, dan Alya siap menunggu, dengan harapan bahwa suatu hari nanti, pemuda misterius itu akan membagikan rahasia di balik senyumnya yang jarang terlihat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar