Hari itu tampak seperti hari biasa di kampus. Alya dan Ray saling berpapasan di kantin, di mana Alya duduk bersama teman-temannya dan Ray dengan beberapa mahasiswa lain di meja dekatnya. Alya merasa nyaman dengan kehadiran Ray, namun ia juga merasakan adanya jarak yang kadang sulit untuk diartikan. Beberapa kali, ia ingin menghampiri Ray, tetapi masih ada keraguan yang mengganjal.
Namun, suasana ceria itu berubah saat Alya mendengar perbincangan antara Ray dan teman-temannya. Ternyata, mereka sedang membahas sebuah acara yang akan diadakan di kampus akhir pekan ini, dan Ray tampak tidak antusias, bahkan menyebutkan bahwa acara itu “hanya membuang-buang waktu.” Alya merasa sedikit terluka mendengar komentar itu, terutama karena ia sudah berencana untuk menghadiri acara tersebut bersama teman-temannya.
Setelah Ray pergi, Alya tidak bisa menahan emosinya. “Dia selalu seperti itu. Kenapa dia tidak bisa sedikit lebih terbuka dan bersikap positif?” keluh Alya pada Maya yang duduk di sampingnya.
“Hey, mungkin dia punya alasan tersendiri,” jawab Maya mencoba membela Ray. “Jangan terbawa perasaan, Alya.”
Tetapi Alya sudah terlanjur marah. Ia merasa seolah Ray tidak menghargai hal-hal yang dianggap penting oleh orang lain, termasuk dirinya. “Tapi dia seharusnya tidak menghakimi sesuatu yang belum ia coba. Rasanya sangat egois,” ungkap Alya, suaranya sedikit meninggi.
Ketika Alya akhirnya memutuskan untuk pergi, ia melihat Ray berjalan menuju arah yang sama. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampirinya dengan penuh semangat, mungkin lebih semangat daripada yang dimaksudkan. “Ray, kenapa kamu bilang acara itu hanya membuang waktu? Banyak orang sudah menunggu dan bersiap untuk bersenang-senang!”
Ray tampak terkejut dengan pendekatan Alya yang tiba-tiba. “Itu pendapatku. Aku tidak mengerti kenapa semua orang terlalu bersemangat tentang hal-hal yang sepele,” jawabnya dengan nada defensif.
“Sepele? Itu bukan sepele! Itu tentang bersosialisasi dan bersenang-senang, Ray. Kenapa kamu selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang negatif?” kata Alya, mulai kehilangan kesabaran.
Mendengar itu, Ray tersenyum sinis. “Kamu tidak mengerti. Mungkin kamu hanya ingin bersenang-senang tanpa memikirkan konsekuensinya.”
Alya merasa tersinggung. “Dan kamu tidak pernah berpikir tentang orang lain? Hanya karena kamu tidak suka, bukan berarti semua orang harus mengikuti pendapatmu!”
Suasana di sekitar mereka mulai menarik perhatian teman-teman, yang mengamati dengan penasaran. Alya dan Ray beradu argumen dengan nada yang semakin tinggi. Alya merasa marah, sementara Ray tampak tenang namun tetap tidak ingin mundur.
Akhirnya, setelah beberapa menit yang penuh ketegangan, Alya berbalik dan pergi, meninggalkan Ray yang tampak terkejut dengan perubahan sikapnya. Rasa kesal dan bingung memenuhi kepala Alya, dan di perjalanan pulang, ia merasa menyesal karena telah terlibat dalam pertengkaran yang tidak perlu. Namun, ia juga merasa bahwa ada benarnya apa yang ia katakan.
Beberapa hari berlalu, dan meskipun keduanya berada di kelas yang sama, mereka menghindari satu sama lain. Alya berusaha untuk tidak memikirkan Ray, tetapi setiap kali ia melihatnya, rasa sakit dan marah itu muncul kembali.
Akhirnya, pada suatu sore, Ray menghubungi Alya melalui pesan. “Maaf atas apa yang terjadi di kantin. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Kita bisa berbicara?”
Alya tertegun membaca pesan itu. Rasa marahnya mulai surut, digantikan oleh kerinduan untuk berbicara dengan Ray. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia membalas. “Maaf juga. Aku mungkin terlalu emosional. Maukah kamu bertemu?”
Mereka sepakat untuk bertemu di kafe dekat kampus. Saat Alya tiba, ia melihat Ray duduk di sudut dengan ekspresi cemas. Ketika Alya mendekat, Ray mengangkat wajahnya dan tersenyum, meskipun masih ada sedikit ketegangan di antara mereka.
“Aku sangat menghargai kejujuranmu, Alya. Aku seharusnya lebih menghormati pendapatmu,” kata Ray, suaranya lembut dan tulus. “Aku hanya tidak suka acara seperti itu, tapi aku tidak seharusnya menghakimi pilihan orang lain.”
Alya mengangguk, merasa hangat di dalam hati. “Aku juga minta maaf. Mungkin aku juga terlalu cepat tersinggung. Kita semua punya pandangan yang berbeda tentang hal-hal.”
Percakapan mereka mengalir dengan lebih lancar setelah saling meminta maaf. Alya merasa lega bisa mengungkapkan perasaannya, dan Ray tampak lebih terbuka dan bersedia berbagi lebih banyak tentang dirinya.
Mereka berdua tersadar bahwa pertengkaran kecil itu justru membawa mereka lebih dekat. Alya merasa semakin yakin bahwa di balik sikap dingin Ray, terdapat hati yang lembut dan pengertian. Sekaligus, ia merasa ada hubungan yang mulai terjalin antara mereka, sebuah pemahaman baru yang membuat Alya merasa beruntung bisa mengenal Ray lebih dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar